Special Parents for Special Children

Special parents for special children

Children with special needs aren’t sent to special parents, they make their parents special.”

Quote taken from http://www.smartappsforspecialneeds.com

Setiap anak itu spesial !

Namun, saat Anda dianugerahi dengan karunia membesarkan (baca: mendidik) seorang Anak Berkebutuhan Khusus, maka si Anak Spesial ini membuat kita menjadi Orang Tua “Spesial” juga!

AnugerahNya cukup bagi Anak-anak Spesial ini dan juga bagi para orang tua yang membesarkan (baca: mendidik) mereka dalam jalan yang “patut” bagi mereka. Tantangan yang berbeda namun anugerahNya pun berbeda!

Saya pernah mengalami stress saat mengetahui fakta bahwa anak sulung saya ternyata didiagnosa Autism ringan.

“Kami menyarankan anak Anda untuk dibawa ke psikolog anak untuk tahu apakah memang dia memiliki gangguan perkembangan…!! demikianlah masih terngiang-ngiang ucapan Kepala Sekolah Kelompok Bermain tempat kami menyekolahkan anak kami, J.

Beliau menyarankan beberapa tempat terapi bagi Anak Berkebutuhan Khusus yang mungkin bisa kami coba untuk J.

Ini bukan pertama kalinya kami mendapat saran serupa. Guru Sekolah Minggu dan guru T*mbletots J pun pernah menyarankan kami untuk menanyakan ke dokter anak J perihal keterlambatan perkembangan J.

Kami sebagai orang tua J saat itu merasa tidak ada yang salah dengan anak kami (sepertinya). Kami masih berada dalam fase unaware tentang fakta ini. Usianya tiga tahun kala itu dan ia memang punya riwayat terlambat berjalan dan juga belum lancar berbicara. Pada usia 15 bulan J  baru mulai lancar berjalan dan seringkali dia berjinjit saat melangkah.

Mulailah di usianya yang belum lama genap tiga tahun itu, kami mulai mencari informasi melalui internet dan buku, dan tentunya bertanya kepada dokter anak dan kepada teman kami yang kebetulan seorang Psikolog. Kami mengunjungi  rumahnya seolah-olah bertamu, dan dia pun bermain bersama J untuk mengamatinya.

Hasil bertamu itulah teman kami menyarankan kami agar J segera mengikuti terapi Sensory Integration (SI) dan terapi Wicara. Teman kami pun merekomendasikan dua nama Psikiater Anak yang menangani anak kebutuhan khusus seperti J.

Mulailah hari-hari awal terapi J….

Ternyata mencari tempat terapi itu tidak semudah mendaftarkan anak sekolah. Meningkatnya jumlah kasus Anak Berkebutuhan Khusus membuat tempat-tempat terapi umumnya sudah terisi penuh dan untuk mendapat jadwal saja harus waiting list!

Tiga bulan kami waiting list menunggu untuk mendapat slot jam terapi SI di tempat yang disarankan. Dan yang membuat makin sesak adalah biayanya lebih mahal dari biaya sekolah reguler!!

Keluarga kami yang single income cukup kagettt dengan lonjakan biaya terapi dan pendidikan anak kami. Cukup WOW banget tuh dan cukup sukses menjadi topik konflik rutin kami saat itu. Segala sesuatu harus di-budget ulang dan dipikirkan kembali apakah benar-benar kami butuhkan atau tidak. Semuanya fokus untuk biaya J.

Lalu mulailah kami membaca resources dan buku-buku mengenai Anak Spesial (Special Needs). Hasil dari browsing, membaca buku, konsultasi dengan Psikiater Anak dan dokter anak membuat kami lebih terbekali secara pengetahuan dengan “how to” untuk menangani anak kami.

Tapi…ada satu masa dimana stress dan depresi sempat melanda, sampai pada suatu titik kami “sadar” bahwa anak kami ini bukan milik kami. Ternyata yang membuat kami tertekan selama ini adalah “rasa memiliki yang salah”, seolah-olah J itu hak milik kami sebagai orang tuanya!  Kami sadar, Tuhanlah yang empunya J dan kami hanya diberi kesempatan untuk menjadi orang tuanya! So…kami stop untuk berusaha dengan kekuatan kami sendiri dan memutuskan untuk meminta hikmatNya.

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

Saat kami berusaha dengan kekuatan sendiri, artinya Tuhan tidak lagi kami libatkan dan akhirnya kami menjadi frustasi! Namun saat kami berserah pada kehendakNya dan meminta hikmatNya dalam setiap langkah kami, anugerahNya nyata dan selangkah demi selangkah Ia menuntun kami kepada orang-orang yang tepat, tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Kami tidak habis berpikir betapa banyaknya “kebetulan-kebetulan” (baca: mujizat-mujizat) yang Ia berikan sepanjang jalan buat J ! Bagaimana Ia mempertemukan kami dengan seorang Home Therapist yang juga merupakan Guru Sekolah Minggu, bagaimana kami dipertemukan dengan keluarga A yang mau menjadi sahabat J, dan tak terhitung banyaknya “kebetulan-kebetulan” (baca: mujizat-mujizat) lainnya yang dapat diketik menjadi sebuah artikel! Kami tuliskan semuanya ke dalam Buku Jurnal Perkembangan J. Dan setiap kali kami  membaca buku tersebut, kami dikuatkan! Sungguh nyata penyertaan Tuhan di setiap musim kehidupan J !

Akhir kata, tanpa maksud menggurui, bagi para Orang Tua Spesial yang memiliki anugerah yang sama dengan kami, ada empat tips yang menurut kami dapat menjadi langkah praktis dalam perjalanan panjang mendidik Anak-anak Spesial  :

#1. Stop Living in Denial

Berhenti memungkiri fakta bahwa anak kita berkebutuhan khusus. Fase Denial sebaiknya jangan berlanjut lama. Kaget boleh, marah boleh, kesal boleh, stress pun boleh, tapi segera bereskan hati dan bangkit dan bergegas! Kita berpacu dengan waktu. Satu tahun rasanya cepat berlalu, dan…. bagi Anak Berkebutuhan Khusus, apabila sedini mungkin diberi intervensi yang baik, maka akan memperbesar kemungkinan mereka untuk pulih!

#2. Accept and Love Unconditionally

Terimalah anak kita apa adanya dan kasihi mereka tanpa syarat! Kasih sayang adalah obat paling manjur bagi Anak Spesial! Mereka begitu fasih ber-bahasa kasih!  Walau nonverbal sekalipun, mereka tetap mengerti “bahasa kasih”, terutama dari orang tuanya! Lebih seringlah memeluk, membelai dan mengatakan “I love you” melalui berbagai cara yang dapat kita lakukan.

#3. Build a Support System

Berikan informasi kepada keluarga besar dan inner circles kita mengenai kondisi anak kita. Jangan menutupi dan menghindar dari teman-teman terdekat dan keluarga besar karena kita memiliki anak spesial! Sebaliknya, kita akan membutuh banyak bantuan mereka dan bisa melibatkan mereka dalam support system (tim yang ikut menangani Anak Spesial kita, seperti : orang tua, saudara kandung, Dokter Anak, Terapis, Psikiater Anak, Guru di sekolah, Guru Sekolah Minggu, teman dekat dan anggota keluarga besar). Support system ini dapat sangat menentukan kehidupan anak kita dan keluarga kita. Sebagai contoh: dengan adanya edukasi Teknik Penanganan Anak Spesial kepada support system, mereka pun bisa menyediakan waktu dengan anak kita di mall atau di pesta ulang tahun dan mereka tahu bagaimana bertindak saat … misalnya anak kita sedang emosi atau sedang tidak nyaman, dan muncul perilaku spesialnya.

Mereka bisa bergantian menjaga anak kita saat kita sedang berhalangan, misalkan: sakit dan dirawat inap atau mengikuti acara retreat, dan sebagainya.

#4. Give Our Children the Opportunity of Living their Best Life ever!

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKU, janganlah menghalangi mereka, sebab Kerajaan Allah empunya mereka.” (Matius 19:14)

This is the best part!  Jangan berhenti memperkenalkan Tuhan kepada mereka! Use every opportunity to introduce Jesus. Kebahagiaan dan kesuksesan terutama mereka adalah saat mereka mengenal kebenaran dan bertekun di dalamNya!

Jangan berhenti melakukan terapi sampai anak kita memang perkembangannya sudah mencapai target seperti yang diharapkan. Kalaupun harus terapi seumur hidupnya, usahakan yang terbaik demi anak kita! BerkatNya pasti cukup dan anugerahNya sempurna!

Sebagai orangtua, teruslah mencari dan menggali minat dan bakat anak kita. Kemudian salurkanlah kelebihan mereka melalui kursus dan les. Jika ia memiliki bakat musik, dapat disalurkan dengan mempelajari alat musik, seperti: Piano, Drum, Keyboard, Gitar, Marching Band, etc. Jika ia suka menari, dapat disalurkan ke sanggar tari, les balet, breakdance, etc. Atau … mungkin hobi masak? Atau melukis? Yuk.. terus pelajari anak kita dan lanjutkan petualangan mencari bakat terpendamnya!

Untuk Orang Tua Spesial lainnya yang ingin saling berbagi/sharing mengenai anak-anaknya, penulis (baca: Yunie) menerima email di : agendaiburumahtangga.gmail.com atau kunjungi blog saya di : www.agenda-iburumahtangga.blogspot.co.id

Saat ini J berusia 8 tahun dan ia masih menjalani terapi SI dan Play Therapy. Untuk sekolahnya kami memilih pendekatan semi Homeschooling.

Perjalanan masih panjang & let’s enjoy the trip !!

( YunieAgenda Ibu Rumah Tangga )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s